Assalamualaikum Wr. Wb.

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bisa memberikan manfaat kepada manusia lain

Selasa, 21 September 2010

Rindu Desah

Ke mana kata-kata mesra
Yang kau tebar setiap kala
Bukannya aku memburu kata itu
Hingga kumengejar huruf-hurufnya
Yang empat namun dapat menjerat
Setiap yang tertambat
Hanya dengan nafsu liarku

Bibir berucap
Digerakkan hati yang tersembunyi
Degub menahan cuatan
Meronta di bibir hari

Aku merindukan setiap desah
Menggelitik di gendang dengar
Kedamaian berselimut tentram
Kurasakan di saat gundah menggulana hati

Kata-kata terangkai menusuk hati
Terasa kini
Pedas membakar
Tak ada bumbu penentram
Di liang suara

Sudah punahkah kata-kata itu
Tertelan amarah yang mengelilingi
Setiap desah udara yang terhembus

Hanya pada batang hujan kuberharap
Mampu padamkan panas
Lalu menumbuhkan kata-kata mesra
Meneduhkan setiap hasrat

Telagabiru, April 2010

Kamis, 16 September 2010

Gadis Ayu

Bunga di taman
Mekar semerbak harum
Tangan halus gadis ayu
Memetik setangkai
Diselipkan di rambut terurai

Mata melirik
Tersenyum bibir merah menantang
Diri yang meradang

Oh, gadis ayu
Berpipi lesung
Izinkanlah diri singgah
Di ruang hati
mengurai segala isi

Rabu, 15 September 2010

Serpihan Kenangan

Sepanjang jalan berlubang
Kumenerobos tebal kabut
Mengais serpihan kenangan
Yang telah terpisah
Lima belas tahun lamanya

Harum kembang kapas
Di sepanjang jalan itu
Membangkitkan semangat
Buka lembaran baru
mengabadikan kenangan masa lalu

Dibakar perapian berselimut
Amis ikan bakar
Terurai canda tawa yang terbungkam
Lima belas tahun lamanya

Gerah menggelitik jiwa
Berpayung serumpun bambu
Seirama deritan memanggil hati
Untuk bersatu tanpa batas waktu

Bulangan, 15 September 2010

Jumat, 10 September 2010

Sunyi di Pagi Kemenangan

Pagi kemenangan berpesta
Dengan saling memaafkan
Riuh rendah takbir
Menggema menelusuri
Cahaya matahari yang timbul tenggelam
Di tengah siang

Ada yang tertinggal
Dalam pekik kemenangan
Sunyi hati terpenjara
Keraguan di balik kelam
Kemudian buncah kegalauan
Menindih gerak langkah
Berat susuri jalan keikhlasan

2 Syawal 1431 H.

ZIARAH KUBUR

Cerpen Ahmad Zaini


Sore itu suasana di kampung halaman ramai oleh lalu lalang orang yang pergi ke makam. Mereka membawa karangan bunga untuk berziarah, mendoakan para leluhur dan orang tuanya yang sudah meninggal dunia. Di kampung halamanku memang ada tradisi setiap menjelang bulan puasa masyarakat pergi ke makam untuk mendoakan para arwah anggota keluarganya agar mendapatkan rahmat dan ampunan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Di pinggir jalan aku menunggu paman yang akan berangkat ziarah. Dia pulang sebentar untuk mengambil karangan bunga yang akan ditaburkan di atas makam. Menurut cerita para orang tua bahwa bunga yang masih segar kemudian ditaburkan di atas makam itu akan bisa meringankan siksa si mayit. Makanya setiap paman hendak berziarah tak pernah lupa membawa karangan bunga.
“Ayo berangkat!” ajak paman. Kemudian aku disuruh membawa sekarangan bunga yang beraneka macam dengan menyebarkan aroma yang wangi menusuk hidung. “Nanti karangan bunga yang kamu bawa, taburkan di atas kuburan ayahmu!” kata paman. Aku mengiyakan semua yang dia perintahkan. Aku sendiri masih belum paham betul dengan tradisi ziarah seperti itu. Maklumlah semenjak ayahku meninggal dunia, aku sudah ikut pakde di kota. Sedangkan di kota, apalagi di lingkungan pakde tradisi berziarah sudah mulai sirna. Hanya orang-orang tertentu yang melakukan itu.
Di makam puluhan orang antri masuk ke lokasi makam. Aku melihat sebagian dari mereka melepas sandal. Dalam hatiku bertanya-tanya kenapa mereka melepas sandal? Padahal tanah di pekuburan itu banyak semak belukar dan duri yang membahayakan kakinya. Paman kemudian menggandengku. Rupanya ia bisa membaca pikiranku. Paman mengatakan bahwa itu dilakukan sebagai tata krama orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal dunia. Menurut paman orang yang meninggal dunia itu masih bisa melihat tingkah polah orang yang masih hidup.
Aku melangkah dengan hati-hati takut terkena duri. Setiap batu nisan yang tertulis nama selalu kubaca. Paman serta merta memperingatkan diriku. “Jangan membaca tulisan yang ada di batu nisan, nanti kamu jadi pelupa, lho!” kata paman memperingatkan diriku. Aku sejenak tertegun memikirkan apa hubungannya membaca tulisan di batu nisan dengan lupa. Namun itu tak kutanyakan kepada paman. Aku diam dan mengiyakan semua kata paman.
“Nah, itu kuburan ayahmu,” kata paman sambil menunjuk ke arah gundukan tanah. Aku melihat batu nisan yang bertuliskan “Rahmat bin Ahmad, Wafat Rabu Legi, 17 Agustus 1990”. Namun aku tak berani membaca tulisan itu. Aku hanya melihatnya karena takut aku nanti jadi pelupa.
Sekarangan bunga yang kubawa kemudian kutaburkan di atas makam ayah. Setelah selesai kemudian paman mengajakku mendoakan arwah ayahku dengan membaca doa-doa. Mulai dari surat Al Ikhlas, An naas, Al falaq, hingga ayat kursi. Setelah itu paman memimpin berdoa dan aku hanya mengamini saja.
Menurut paman bahwa orang yang meninggal dunia itu juga butuh makan. Jika manusia yang masih hidup makannya dengan nasi maka orang yang sudah mati makannya dengan doa. Maka orang yang masih hidup terutama keluarga harus selalu mengirimkan doa kepada ahlinya yang sudah meninggal dunia. Aku diam memperhatikan apa yang disampaikan paman dengan sungguh-sungguh.
Aku dan paman masih berdoa dengan khusu’ di depan makam ayah. Aku teringat semasa ayah masih hidup. Ia begitu tegas dalam membimbing anak-anaknya. Termasuk membimbing aku. Pernah pada suatu hari ketika aku bermain kelereng dengan temanku hingga menjelang maghrib, ayah tiba-tiba datang kemudian menjewer telingaku hingga terasa panas. Itu dilakukan karena saya belum shalat ashar. Waktu itu usiaku delapan tahun. Usia yang wajib bagi orang tua untuk mengajari anaknya shalat. Jika hingga sepuluh tahun kemudian anak tidak mau melaksanakan shalat wajib bagi orang tua untuk menakut-nakuti atau memberi sangksi misalnya dupukul. Tapi memukulnya tidak dengan emosi atau dengan pukulan yang membahayakan. Tujuannya hanya agar anaknya jera dan mau menjalankan shalat tidak lebih dari itu. Oleh karena itu, saya sangat bangga dengan ayah karena ketegasannya dalam mendidik anak-anaknya.
Tanpa terasa aku sudah duduk di depan makam ayahku selama setengah jam. Matahari sudah hampir tenggelam. Orang-orang yang berziarah juga sudah mulai pulang. Paman kemudian menepuk pundakku mengajakku berdiri dan pulang ke rumahnya. Angin senja berhembus pelan membelai daun-daun kamboja di pekuburan. Bunga kamboja yang putih berseri luruh di atas makam ayah. “Mudah-mudahan dapat meringankan siksa dan dapat mendoakan ayahku agar dosa yang selama ia lakukan semasa hidupanya diampuni oleh Tuhan,” doaku dalam hati saat melihat makam ayahku dipenuhi bunga-bunga yang kutaburkan dan bunga kamboja yang baru jatuh di atasnya.
Sesampai di rumah, aku kemudian menghela napas dengan bersandar di sebuah kursi. Tiba-tiba bibiku berseru dari dalam kamar memerintahkan agar aku mencuci kaki dulu sebelum masuk rumah. Menurut bibi orang yang baru datang dari kuburan itu harus cuci kaki agar tidak ketiban sial dalam hidupnya. Atau paling tidak kaki kita tidak kotor terkena tanah makam. Karena tanah di makam itu tidak terjamin kesuciannya. Makanya kita juga tidak diperbolehkan melaksanakan shalat di tanah makam. “Iya, Bi,” jawabku kemudian aku menuju ke tempat mandi di depan rumahk. Tak lama kemudian adzan maghrib berkumandang dari mushalla yang berjarak sekitar lima puluh meter dari rumah paman.
Langit semakin kelam kemudian fajar di ufuk barat menjadi hitam. Orang-orang yang usai melaksanakan shalat maghrib kemudian berkerumun di depan rumahnya untuk mencari udara. Padahal menurut ilmu kesehatan angin malam itu tidak baik bagi kesehatan. Tapi apa boleh buat malam itu udara sangat gerah hingga mereka nekat keluar rumah.
“Paman, besok aku kembali ke kota. Besok lusa sudah mulai masuk kerja. Di samping itu mungkin pakde sudah cemas menungguku. Terima kasih atas bimbingan paman yang telah memperkenalkan dan mengajariku berziarah kubur!” kataku kepada paman. “Ya, sama-sama. Itu sudah kewajibanku membimbing dirimu sebagai wakil dari ayahmu yang telah meninggalkan kita lebih dulu. Semoga di dalam kubur ia selalu mendapatkan kebahagiaan dan pertolongan dari Tuhan. Apalagi anak bungsunya mau berziarah mendoakannya,” tutur paman. “Dan jangan lupa menjelang lebaran kamu harus datang lagi ke kampung untuk berziarah ke makam ayahmu. Doakan arwah ayahmu usai melaksanakan shalat lima waktu. Jadilah anak sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya yang sudah meninggal,” timpalnya.
Waktu sudah semakin larut. Aku harus segera istirahat untuk menghemat tenaga karena besok pagi aku harus menempuh perjalanan jauh. Aku sudah tak tahan menahan rasa kantuk kemudian aku masuk ke kamar dan dalam sekejap aku terlelap dalam tidur.
Kicau burung dengan udara segar pagi hari sangat enak aku rasakan. Sebantar di halaman rumah paman aku melemaskan otot-otot yang masih kaku. Dari dalam rumah bibi sudah berteriak-teriak memanggilku untuk segera makan pagi. Aku bergegas masuk dan di meja makan sudah siap menu makanan kesukaanku. Aku makan dengan lahap hingga habis lalapnya. Setelah sarapan aku segera mengemasi pakaianku kemudian aku berpamitan kepada bibi dan pamanku.
“Salam kepada pakdemu. Ingatkan jangan lupa kampung halaman,” pesan paman. “Insya Allah akan saya sampaikan. Assalamualaikum!” pamitku seraya melangkah meninggalkan rumah sederhana tapi penuh dengan kedamaian.
Matahari pagi bersinar terang menciptakan bayang-bayang diriku di tengan perjalanan. Kupanggul tas yang berisi pakaian yang kupakai selama di rumah paman. Dalam perjalanan pulang aku berkali-kali berpapasan dengan muda-mudi yang usai jalan-jalan. Mereka menjaga kebugaran tubuhnya untuk menghilangkan rasa kantuk yang menyelimuti dirinya. Padahal banyak di antara mereka masih mendengkur dalam tidur. Maklumlah mereka sudah bangun sejak pukul 3 untuk makan sahur.
Sesampai di tujuan, pakde dan bude sudah menunggu di depan pintu. Mereka mencemaskan diriku yang selama seminggu berpisah dengan mereka. Mereka merangkulku sebagai ungkapan rasa kangen. Aku membiarkan mereka merngkulku karena sudah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri.
“Pakde mencemaskan dirimu. Alhamdulillah kau saat ini sudah di rumah. Bagaimana kabar pamanmu di kampung?” tanya pakde. “Syukur, baik-baik saja. Mereka sehat semuanya,” jawabku. “Oh, iya, Ada pesan buat pakde. Kata paman, pakde tidak boleh melupakan kampung halaman,” ceritaku. “Ya, jelas tidak lupa. Masak pakde bisa melupakan mereka. Pakde, kan orang baik, ya,kan?” kata pakde melucu yang disambut tawa oleh bude.
Menurut pakde menjelang lebaran kami serumah akan pulang kampung. Di samping untuk berziarah kubur ke makam orang tua juga untuk bersilaturrahim kepada sanak famili dan juga para tetangga yang sudah ditinggalkan sejak puluhan tahun yang lalu. (*)

1 September 2008
Penulis beralamat di Wanar Pucuk Lamongan

Kamis, 09 September 2010

Aku Malu

Padamu
Aku malu
Sebab lukaku

Belatung menari
Menghisap nanah di antara
Kemolekan tubuh berkulit mulus

Kubalut lukaku
Berikat kasa
Namun anyir darah
Menembus balutan tipis
Busuk
Memuntah di muka pengadil

Lamongan, November 2009

Senin, 06 September 2010

Aku Ingin

Kemukus kabarkan lewat mendung di suatu malam
Kata kakek, “Akan ada bencana besar, Cucu,”
Hanya yang jadi pertanyaan bahaya besar apa?
Mungkinkah kepemimpinan di negeri ini yang terus digoyang
Ataukah dasyat bencana alam akan terulang

“Jangan dulu!” kataku
Negeriku masih berbenah
Negeriku masih bersolek
Menata wajahnya yang masih carut marut
Oleh kekeringan
Kelaparan
Banjir bandang
Dan krisis kepemimpnan

Berikan waktu agar proses yang dijalani negeriku
Tuntas
Jangan kau putus di tengah jalan

Kasihan anak kecil berkaleng kecil
Yang setiap hari berteriak meminta belas kasihan
Kasihan para gelandangan yang mencari tempat berlindung dari kejaran satpol PP
Kasihan mereka yang berebut setiap ada pembagian zakat dan sembako

Aku ingin mereka merasakan
Cita yang mereka inginkan tercapai
Anak-anak tersenyum ceria
Bermain jernih air dan bermain gasing
Aku ingin mereka tinggal di apartemen berfasilitas layak
Seperti mereka yang merasakannya kini

Aku ingin
Mereka tersenyum berbalut merah putih berkibar di jagad raya
Dengan kobar semangat yang tak pernah pudar

Aku ingin keretakan dalam negeri ini
Dapat terkait
Dalam persatuan dan kesatuan
Menjaga martabat dan harga diri bangsa

Teruskah kita terbenam dalam Lumpur penderitaan
Sementara luas wilayah kita terbentang
Dari Sabang sampai Merauke

Aku ingin hidup layak
Di atas bumi negeriku sendiri
Karena hujan batu di negeri sendiri
Lebih kupilih daripada
hujan emas di negeri orang

Aku ingin negeri ini memperlakukan rakyat
Sebagai penduduk pribumi
Jangan perlakukan mereka seperti orang asing
Mereka berhak mengecap sebutir nasi
Yang dihasilkan dari bumi ini
Mereka berhak meminum jernih
Air dari tanah yang subur ini

Aku ingin
Hanya ingin